RUNNING NEWS :
Loading...
CARI DI GOOGLE

Resubmit Adsense Dengan Akun Lama Yang Pernah Ditolak

Dirolu - Banyak orang bertanya-tanya, apakah akun adsense yang sudah ditolak bisa dipulihkan kembali untuk didaftar ulang ? Pasalnya, untuk menerima publisher adsense Google melakukan verifikasi yang bisa dibilang amat ketat.

Kadang setelah mendapat review kedua, pemilik akun sudah besar harapan bakal diterima sebagai publisher. Namun, banyak yang kecewa lantaran beberapa hari setelah muncul notifikasi review tersebut, Google kembali mengirim notifikasi penolakan.

Lantas, apakah dengan akun lama bisa mendaftar lagi ? Sebelum menjawab pertanyaan tersebut ada baiknya kita mempelajari beberapa alasan penolakan yang dilakukan oleh Google.

Ada dua faktor yang menyebabkan penolakan terjadi. Yang pertama karena publishernya sendiri dan yang kedua, situs yang didaftarkan tidak memenuh kebijakan webmaster Google.

Penolakan dari faktor pertama yang dilakukan oleh publisher, biasanya dilakukan karena kurang lengkap dalam menulis alamat. Selain kurangnya penulisan alamat, biasanya publisher melakukan resubmit dengan akun lama yang pernah hangus atau sudah tiga kali ditolak dan tidak bisa dipakai lagi.

Sementara, penolakan karena faktor situs yang tidak memenuhi kebijakan webmaster, biasanya dari pihak Google akan memberikan penjelasan bagian mana  yang bisa diperbaiki.  Dalam penjelasan yang diberikan, Google akan memberitahu kesalahan-kesalahan yang ada pada situs.

Setelah mengetahui dua faktor penyebab  ditolaknya akun adsense, maka solusinya adalah dengan melakukan daftar ulang. Pendaftaran ulang ini bisa dilakukan dengan akun lama yang pernah ditolak, dengan mengikuti petunjuk pada notifikasi penolakan yang dikirimkan Google melalui email. Kita tinggal mengikuti tautan yang diberikan dan mengisi sesuai dengan permintaan. Namun bila kesulitan, pendaftaran resubmit bisa dilakukan dengan mengikuti tautan dibawah  ini :

Resubmit

Bila dengan cara diatas (mengikuti tautan) belum juga diterima, maka langkah lain adalah dengan membuat akun email baru.

Sumber : inspirasifalah/berbagai sumber




Jack Ma : "Masa Depan Cerah Untuk Generasi Mawas Teknologi"

Jack Ma (independent)



Dirolu - Tantangan bagi pekerja di masa depan adalah Artificial Intelligence atau kecerdasan buatan yang akan mengalahkan kecerdasan manusia dan bukan tidak mungkin menghilangkan lapangan kerja. Demikian dikatakan Jack Ma, bos sekaligus pendiri Alibaba.com. Menurutnya, generasi yang sukses di masa depan adalah mereka yang bisa mengikuti perkembangan teknologi.

Namun sebaliknya, kenyataan pahit akan menimpa mereka yang tidak mawas akan hal ini. " Era baru akan datang. Lapangan kerja akan semakin berkurang.Mereka yang tidak bisa mengikuti hal ini akan menerima kenyataan pahit di masa depan," ungkap Jack Ma seperti  dikuti dari CNBC beberapa waktu lalu.
Jack Ma menghimbau ditengah perkembangan teknologi yang sangat pesat, generasi mendatang harus fokus pada profesi yang berbasis data.

Ia mengatakan, profesi dengan pekerjaan menganalisis data akan mendapat tempat dan gaji besar. " Saya pikir dunia akan penuh dengan data. Ini merupakan awal dari periode data," katanya.

Dasar itu diperoleh Jack Ma dari catatan para pengguna situsnya (alibaba.com). Dari data dan catatan itu bisa digunakan untuk memprediksi pola dan tren masa depan. " Menurut saya, keberadaan data akan sangat vital di masa depan. Semuanya akan terhubung nantinya," ungkapnya.

Ungkapan ini bukan hanya disampaikan Jack Ma, namun juga CEO Space X dan Tesla Elon Musk yang kini sedang memutakhirkan teknlogi yang menghubungkan otak manusia dengan komputer. (and)

SOURCE







 

Benarkah Ada Motif Politik Dibalik Serangan Petya ?



Dirolu - Ramai perbincangan penyebaran Ransomware Petya di dunia, berbuntut pertanyaan motif politik dibalik penyebarannya. Meski belum bisa dipastikan pelaku penyebaran Ransomware mirip WannaCry ini, namun sejumlah sumber menduga ada motif politik dibaliknya.

Melihat targetnya yang menyerang sistem dalam pemerintahan, Cooperative Cyber Defence Centre of Excellence (CCD COE) NATO menduga penyebaran Petya didukung oleh aktor pemerintah.Setidaknya, disetujui oleh pemerintah.

Menurut CCD COE, melihat Ukraina sebagai negara pertama yang menjadi korban, serangan ini seperti sengaja ditujukan ke institusi negara tersebut. Sehingga, aksi penyebarannya terlihat bukan seperti serangan biasa.

"Sistem pemerintah telah menjadi target. Dengan kata lain, operasi ini merupakan bentuk pelanggaran untuk menyerang kedaulatan negara," tulis Tomas Minarik, peneliti dari CCD COE, seperti dikutip dari The Verge, Senin (3/7/2017) lalu.

Menurut pusat peneliti keamanan siber yang disponsori NATO itu, dari nilai tebusan yang tak mungkin menutup biaya operasi, membuat operasi penyebaran Petya yang sesungguhnya tak rumit, menjadi seperti rumit dan mahal. Dengan kata lain, penyebaran Petya terlihat tak mungkin dilakukan oleh penjahat siber biasa.

Seperti diketahui sebelumnya, penyebaran Petya pertama kali menyerang sistem bandara di Ukraina, Bank Nasional dan kantor pemerintahan negara tersebut. Ukraina sendiri sempat menyalahkan hacker asal Rusia dibalik serangan ini. Apalagi diektahui, efek Petya lebih buruk dibandingkan dengan WannaCry. (and)

SOURCE



Aquila, Drone Milik Facebook Penyebar Akses Internet

Aquila


Dirolu - Setelah gagal pada penerbangan uji coba yang pertama, Aquila, Drone milik Facebook akhirnya berhasil menyelesaikan penerbangannya. Aquila, pesawat tanpa awak yang diciptakan untuk menyebar akses internet ke seluruh dunia ini sukses terbang selama satu jam 46 menit. Aquila berhasil mendarat dengan mulus pada uji coba kedua pada 22 Mei 2017 lalu.

Keberhasilan ini berkat awak pesawat yang belajar dari kegagalan sebelumnya. Mereka memasang perangkat untuk mengurangi beban drone bertenaga matahari ini. Dengan keberhasilan ini pula, nantinya Aquila diharapkan bisa terbang selama 3 bulan lebih.



Aquila sendiri adalah drone yang diciptakan Facebook untk menyebar akses internet di daerah-daerah terpencil. Pesawat nirawak ini  diharapkan mampu menyebar koneksi internet dari ketinggian diatas 60.000 kaki dengan menggunakan laser komunikasi dan gelombang milimeter.  

Pada uji coba pertama dilakukan di gurun Arizona pada Juni 2016 lalu, Aquila terjatuh sebelum mendarat hingga menyebabkan kerusakan pada bagian sayapnya. Dari kegagalan ini, Direktur Sarana Aeronautikal Facebook memperbaiki kinerjanya dengan menambahkan spoiler pada bagian saya Aquila.

Dengan penambahan ini diharapkan mampu menambah daya hambat dan mengurangi daya angkat saat mendarat. Meski sukses pada uji coba kedua, Aquila masih mengalami kerusakan pada beberapa bagian saat mendarat. Namun para insinyur Facebook mengatakan, itu hanyalah kerusakan kecil yang mudah diperbaiki. (and/berbagai sumber)



Smartphone
SEO
Blog
Sosok

 

Dirolu

Atas