RUNNING NEWS :
Loading...
CARI DI GOOGLE

Awas, Joker Datang Susupi Jutaan Aplikasi Android di Dunia

Joker
dirolu- Malware baru bernama Joker dikabarkan banyak menyusup dalam puluhan aplikasi android. Sesuai dengan namanya pula yang mirip musuh Batman dalam film, Joker mempunyai sistem infeksi yang lebih sadis daripada malware-malware yang pernah ada. 

Parahnya, kabar terakhir menyebutkan Joker telah menyusupi aplikasi android di play store yang sudah diunduh hingga ratusan ribu kali. Sehingga, kemungkinan penyebarannya sudah lebih banyak. 

Menurut kabar, penyebaran Joker sudah merata dan hampir di 37 negara, termasuk Indonesia. Pihak Google sendiri sudah mengetahui akan hal ini dan melakukan bersih-bersih. 

Seperti dikutip dari kompas tekno, dalam seranganya Joker mencuri akun para penggunanya untuk berlangganan premium tanpa diketahui pemiliknya. Termasuk mencuri daftar kontak dan mengintip pesan yang dikirim. 

Untuk mengantisipasinya, Google sendiri sudah menghapus sebanyak 85 aplikasi jahat yang mengandung malware. Beberapa yang dihapus diantaranya aplikasi game, stream tv hingga perjodohan online. 

Dari 85 aplikasi yang dihapus, perusahaan security CSIS juga menghimbau agar menghapus 24 aplikasi yang dianggap berbahaya. (and)


SUMBER : berbagai sumber



Bugs Meltdown dan Spectre Datang, Rentan Menyusup dan Curi Data Komputer


Dirolu - Pengguna komputer dan smartphone, belakangan dihebohkan dengan kabar serangan bug meltdown and spectre. Meltdown and spectre disebut sebagai dua celah keamanan pada komputer dan perangkat yang bisa menjadi jalan bagi peretas untuk melakukan pencurian data tanpa diketahui penggunanya.

Beredarnya kabar ini, menjadi mimpi buruk pengguna komputer yang menyimpan  data rahasia. Bagaimana tidak, meltdown and spectre adalah dua celah keamanan pada komputer yang selama ini jarang diketahui.  

Bugs ini disebut bisa bekerja pada aplikasi apapun yang sedang berjalan. Beberapa komputer yang disebut paling terdampak yakni yang menggunakan processor Intel, ARM dan AMD. Namun tak hanya itu, pihak apple juga mengatakan semua perangkatnya, seperti Mac, termasuk iOS untuk Iphone dan Ipads juga terdampak celah keamanan berbahaya tersebut.

Namun Apple menegaskan, tidak ada eksploitasi berbahaya dari dampak itu. Untuk mengantisipasi kerentanan terhadap Meltdown perusahaan menggulirkan update aplikasi untuk iPad, iPhone, iPod sentuh, desktop dan laptop Mac, serta set-top-box Apple TV.

Sementara untuk perangkat Intel, Meltdown ini diperkirakan hanya menyerang chip intel buatan 1995, kecuali Itanium dan Atom yang dibuat sebelum 2013.

Beberapa pusat keamanan di dunia belum melakukan antisipasi untuk serangan ini, karena memang tidak ada bukti. Meski demikian, beberapa pihak khawatir dengan beredarnya meltdown and spectre sebagai celah keamanan komputer, akan dimanfaatkan oleh peretas untuk melakukan pencurian data.

Lantas bagaimana semua itu bisa terjadi ? Meltdown bekerja dengan cara menyusup pada perangkat dan mencuri Kernel atau sistem inti yang menyimpan semua informasi penting pada perangkat. Sementara Spectre bekerja dengan cara mengelabui aplikasi normal untuk memberikan data sensitif seperti kata kunci atau pasword. (and)

Sumber : Berbagai Sumber

Benarkah Ada Motif Politik Dibalik Serangan Petya ?



Dirolu - Ramai perbincangan penyebaran Ransomware Petya di dunia, berbuntut pertanyaan motif politik dibalik penyebarannya. Meski belum bisa dipastikan pelaku penyebaran Ransomware mirip WannaCry ini, namun sejumlah sumber menduga ada motif politik dibaliknya.

Melihat targetnya yang menyerang sistem dalam pemerintahan, Cooperative Cyber Defence Centre of Excellence (CCD COE) NATO menduga penyebaran Petya didukung oleh aktor pemerintah.Setidaknya, disetujui oleh pemerintah.

Menurut CCD COE, melihat Ukraina sebagai negara pertama yang menjadi korban, serangan ini seperti sengaja ditujukan ke institusi negara tersebut. Sehingga, aksi penyebarannya terlihat bukan seperti serangan biasa.

"Sistem pemerintah telah menjadi target. Dengan kata lain, operasi ini merupakan bentuk pelanggaran untuk menyerang kedaulatan negara," tulis Tomas Minarik, peneliti dari CCD COE, seperti dikutip dari The Verge, Senin (3/7/2017) lalu.

Menurut pusat peneliti keamanan siber yang disponsori NATO itu, dari nilai tebusan yang tak mungkin menutup biaya operasi, membuat operasi penyebaran Petya yang sesungguhnya tak rumit, menjadi seperti rumit dan mahal. Dengan kata lain, penyebaran Petya terlihat tak mungkin dilakukan oleh penjahat siber biasa.

Seperti diketahui sebelumnya, penyebaran Petya pertama kali menyerang sistem bandara di Ukraina, Bank Nasional dan kantor pemerintahan negara tersebut. Ukraina sendiri sempat menyalahkan hacker asal Rusia dibalik serangan ini. Apalagi diektahui, efek Petya lebih buruk dibandingkan dengan WannaCry. (and)

SOURCE



Habis WannaCry, Datanglah Petya

Petya (tech desk)

Petya Ransomware Yang Mengenkripsi Harddisk Keseluruhan


Dirolu - Dunia siber seolah tak pernah sepi dari ancaman. Setelah sebelumnya kedatangan virus jenis ransomware yang dinamakan "WannaCry" kini virus serupa juga kembali datang mengancam. Serangan virus yang juga jenis Ransomware dan dinamakan Petya ini dikabarkan lebih ganas dari pendahulunya. Kalau WannaCry hanya mengenkrip file tertentu, Petya malah mengenkripsi seluruh harddisk.

Peusahaan keamanan ESET sempat membuat pernyataan tertulis dan mengatakan, Petya dideteksi sebagai Win32/Diskcoder,.C. Dalam operasinya, jika berhasil menginfeksi MBR Malware ini akan mengenkripsi seluruh drive pada harddisk komputer.

Cara penyebaranya pun berbeda dengan WannaCry. Petya hanya menyebar melalui LAN (Local Area Network) dan tidak melalui internet. Hanya butuh satu komputer yang belum di Patch untuk menyebar dan selanjutnya akan mengambil alih hak administrator lalu menyebar ke komputer lain.

"Akibatnya banyak bank, jaringan listrik dan Perusahaan pos terinfeksi. bahkan kantor-kantor pemerintah yang memiliki keamanan berlapis berhasil ditembus," terang ESET.

Dengan mengadopsi fitur Ransomware WannaCry, Petya memblokir seluruh sistem dalam komputer dan mengenkripsi file di dalamnya. Untuk memulihkannya, pengguna yang ingin mendapatkan hak akses kembali harus membayar uang tebusan sebesar 300 hingga 500 dolar dalam mode pembayaran bitcoin.

Pakar keamanan hingga kini masih mempertanyakan motif sesungguhnya dari Petya, apakah murni peretasan atau sekedar pemerasan. (and)

SOURCE
Smartphone
SEO
Blog
Sosok

 

Dirolu

Atas