Selasa, 18 Juli 2017

Mengenal Pavel Durov, Si Pencipta Aplikasi Telegram

Pavel Durov


Dirolu - Aplikasi Telegram belakangan ramai dibicarakan netizen Indonesia. Apalagi setelah diblokir oleh pemerintah Indonesia karena kerap digunakan oleh jaringan teroris menyebar propaganda. Namun dibalik semua masalah yang terjadi, tak banyak yang tahu tentang pendiri aplikasi ini.

Pavel Durov, dialah pendiri Telegram. Pria ganteng asal Rusia ini lahir 10 Oktober 1984 di St Petersburg. Dia menciptakan Telegram bersama saudaranya, sejak duduk di bangku kuliah. Sewaktu kuliah, ia mengambil jurusan Filologi (ilmu yang mempelajari sumber sejarah tertulis) di Academy Gymnasium St Petersburg. Namun ditengah masa kuliahnya ia mempelajari ilmu pemrograman.

Minat inilah yang akhirnya membuat Durov terkenal di kampusnya. Ia berhasil merilis perpustakaan online bersama saudaranya. Karena keberhasilan ini ia pun berniat merilis media sosial. Namun sayangnya, niat ini gagal lantaran minimnya sumberdaya dan dana.

Meski demikian, teman Durov yang tinggal di Amerika, Vyacheslav Mirilashvili mendengar sepak terjangnya selama di kampus. Setelah membaca di surat kabar tentang prestasi Durov, Mirilashvili akhirnya mengajaknya bekerjasama, tepat di ulang tahun Durov pada 10 Oktober 2006. Kerjasama itu akhirnya melahirkan aplikasi VKontakte, jaringan sosial mahasiswa.

Tak lama dibentuk, VKontakte menjadi terkenal di kalangan mahasiswa. Hingga akhirnya, VKontakte dibuka untuk umum. Karena ramai pengguna, pada Februari 2007 VKontakte digunakan lebih dari 100 ribu orang dengan keuntungan US$ 3 Miliar.

Sayang, pada 21 April 2014 pemerintah Rusia menekan Durov untuk memberikan data lawa politiknya. Karena masalah ini pula, VKontakte harus berakhir. Dari permasalahan inilah, Durov akhirnya menyadari betapa pentingnya privasi pengguna aplikasi di smartphone. Karenanya, ia pun akhirnya mengundurkan diri dan pergi dari Rusia.

Pasca berakhirnya VKontakte, Durov bersama saudaranya, Nikolai Durov akhirnya membuat aplikasi yang mengutamakan privasi penggunananya. Aplikasi inilah yang akhirnya dinamai Telegram. Lagi-lagi Durov kesandung masalah serupa. Aplikasi ini kembali diblokir karena dilaporkan telah digunakan jaringan ISIS. Durov pun akhirnya memblokir 78 kanal yang diduga berafiliasi dengan ISIS. Upaya itu pun ternyata masih menuai masalah. Durov kembali diblokir oleh pemerintah Indonesia untuk masalah yang sama. (and)

Sumber : Liputan6.com